Senin, 05 Oktober 2015

Tugu Katulistiwa


Tugu Katulistiwa Bontang
Tidak setiap saat anda dapat berada di titik nol derajat, tepat di Garis Katulistiwa - Garis Ekuator.

Bisa saja anda hanya melewatinya dengan pesawat atau dengan kendaraan bermotor, tapi berdiri tepat di atasnya merupakan pengalaman khusus.
Sempatkan mengunjungi Tugu Katulistiwa yang berada 25km dari Kota Bontang atau kurang lebih 30 menit perjalanan darat.

Santan Ulu - Tugu Equator, meski hanya sebuah garis imajiner, Garis Katulistiwa - garis 0 - nol derajat, merupakan garis yang penting. Garis ini memisahkan belahan Bumi utara (Northern Hemisphere) dengan belahan Bumi selatan (Southern Hemisphere). Tidak hanya Bumi, planet lain pun juga didefinisikan dengan cara yang sama.

Equator Line - Garis Katulistiwa ini hanya melintasi sedikit kontinen, dari sedikit kontinen tadi di Indonesia hanya di Pulau Batu dan Lingga di Sumatera, Pulau Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Halmahera dan Pulau Gebe di Papua.

Dari sedikit pulau tadi, hanya beberapa yang menandai garis tersebut dengan sebuah landmark, Tugu Katulistiwa di Kecamatan Santan Ulu salah satunya. Tentunya sangat tidak berkesan bila berfoto di atas garis katulistiwa namun tidak ada landmark yang menandainya.

Tugu Katulistiwa atau Tugu Equator ini berada di Km 25 Jalan Bontang - Samarinda.

Anda yang menggunakan pesawat atau perjalanan darat dari Balikpapan atau Samarinda ke Bontang dan sebaliknya sebenarnya selalu melintasi Garis Katulistiwa. Anda mungkin merasa biasa saja, tidak ada rasa yang khusus.

Bila anda dalam perjalanan darat dari Kota Bontang, jangan sampai melewatkan tempat ini.

Waktu yang tepat berada di tugu ini adalah pagi hingga sore hari, sayang sekali malam hari tidak ada penerangan yang cukup di tempat ini. 15 menit waktu yang cukup untuk sekadar mengambil foto atau bersantai dan mengamati garis katulistiwa.

Tanyakan pada sopir anda kemungkinan untuk singgah di tempat ini, terutama bila anda dalam rangka mengejar jadwal pesawat.

Tugu ini dibangun atas Karya Bakti Latsitarda (Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara) tahun 1993, diresmikan oleh Panglima ABRI Jendral TNI Feisal Tanjung.

Sesudahnya tempat ini kurang mendapat perhatian, baik masyarakat ataupun pemerintah. Hingga pada tahun 2010 tempat ini direnovasi oleh dengan pendanaan pihak swasta (PT Kaltim Methanol Industri).

Kondisi tugu kurang mendapat perawatan bahkan tidak terdapat fasilitas apapun bagi pengunjung.

Lokasi yang hanya berjarak sekitar 150 meter dari jalan raya ini dipenuhi semak dan tidak terlihat dari jalan raya.


Rabu, 05 Agustus 2015

Benarkah Bekerja Ikhlas = Bekerja Bodoh ?

Di jaman yang hampir semua hal diukur dengan materi, kerja ikhlas menjadi hal yang langka. Pelakunya pun kerap disebut orang aneh, orang antik atau orang yang melakukan hal bodoh. Kebanyakan orang di jaman ini memang bekerja dengan ”tulus” tetapi tidak ikhlas!

”Lho, apa bedanya?”, 

”Tulus adalah singkatan dari TUjuannya fuLUS”.

Jadi bekerja karena motivasinya adalah untuk mendapatkan uang. Jika mendapatkan uang banyak maka bekerja keras dengan sangat baik, tetapi jika mendapat uangnya sedikit maka kerjanya asal saja. Hal inilah yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Bekerja untuk memperoleh imbalan yang setimpal dengan pekerjaan menurut ukurannya masing-masing.

Tetapi jika bekerja dengan hati ikhlas, berarti bekerja dengan berdasarkan kasih dan kerelaan hati. Seperti matahari pagi yang selalu rajin tidak pernah terlambat selalu bersinar dan tidak pernah mengharapkan imbalan atau balasan kembali.

Matahari juga tidak peduli apakah manusia mau menerima sinarnya atau bahkan menolaknya.

Sebuah kisah yang pernah saya dengar karena diceritakan oleh seorang teman saya beberapa waktu yang lalu.

Kisah ini dapat dijadikan suatu bahan renungan tentang keihklasan hati dalam bekerja.

Seorang mahasiswa yang baru lulus menjadi sarjana kedokteran di sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung memilih untuk bekerja menjadi asisten laboratorium di almamaternya. Penghasilan yang diterimanya sebagai asisten lab sangatlah kecil, bahkan tidak mencukupi walau pun hanya untuk membayar biaya transportasi ke kampusnya. Tetapi dia mencintai pekerjaan menjadi asisten dan melakukannya dengan ikhlas karena memang mencintai pekerjaan mengajar.

Banyak orang yang mengatakan bahwa dia bodoh karena memilih bekerja menjadi asisten lab. Padahal sebagai sarjana kedokteran dari universitas negeri terkenal, dia memiliki peluang besar untuk bekerja di perusahaan swasta yang memberikan penghasilan berpuluh-puluh kali lebih besar.

Walau orang tuanya pun mendesaknya untuk mencari pekerjaan lain, dia tetap memilih membantu almamaternya menjadi asisten lab. Semua hal itu dilakukan dengan hati yang ikhlas. ”Pekerjaan ini membahagiakan hati saya”, katanya.

Suatu saat datanglah seorang profesor dari Jepang berkunjung ke universitas tersebut. Karena semua dosen sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, maka ditugaskanlah asisten lab tersebut untuk menemani dan membantu sang profesor selama berada di Bandung.

Asisten tersebut bisa saja menolaknya karena hal itu bukanlah tugasnya sebagai asisten lab. Dia tidak dibayar untuk hal itu. Tetapi dia memilih untuk tetap menerima tugas itu dengan hati yang ikhlas dan berusaha membantu sebisanya tanpa mengeluh.

Walau pun sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang, dia berusaha sebaik mungkin membantu sang profesor. Mengantarnya mencari makanan untuk makan siang dan makan malam, berbelanja oleh-oleh Bandung, berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu, dan tempat-tempat wisata lainnya. Dia selalu mengantar ke mana pun sang profesor ingin pergi dengan tersenyum.

Setiap hari dia menjemput sang profesor dan mengantarkannya kembali ke hotel tempat sang profesor menginap. Sampai saatnya profesor itu kembali ke Jepang, sang profesor memberikan jam tangannya kepada asisten lab tersebut sebagai tanda terima kasih. Hati sang Profesor sangat tersentuh dengan keramahan dan keikhlasan hati asisten lab yang telah membantunya selama berada di Bandung.

Beberapa tahun kemudian, sang profesor telah terlupakan dalam ingatan asisten lab tersebut. Dan dia masih bekerja masih bekerja ikhlas sebagai asisten di universitas tersebut. Hingga datanglah sebuah kesempatan beasiswa belajar kedokteran sampai jenjang S-3 dari sebuah universitas di Jepang bagi akademisi di universitas negeri di Bandung tersebut.

Dosen-dosen yang lebih senior segera mengirimkan aplikasi permohonan beasiswa ke universitas di Jepang tersebut. Tetapi ternyata oleh universitas di Jepang yang memberi beasiswa tersebut semuanya ditolak!

Ternyata sang Profesor di universitas Jepang itu yang menolaknya. ”Saya hanya mau menerima dan merekomendasikan anak muda yang dulu pernah antar-antar saya selama saya di Bandung!”, katanya dengan tegas.

Akhirnya sang asisten lah yang mendapatkan kesempatan untuk meneruskan kuliah dengan beasiswa di Jepang. Dia melampaui dosen-dosennya yang lebih senior untuk mendapat kesempatan kuliah lebih tinggi. Kabar terakhir yang saya terima, saat ini dia masih sedang menyelesaikan kuliah S-3 kedokterannya di Jepang.

Dari kisah nyata itu saya berkesimpulan bahwa kerja ikhlas bukanlah kerja bodoh, melainkan kerja yang sangat pintar!

Walau pun dengan bekerja ikhlas kita tidak dipedulikan atasan kita, orang disekitar kita, atau tidak dipedulikan orang lain… tetaplah bekerja dengan x-tra kerja ikhlas!

Ingatlah! Bahwa walau pun semua orang di dunia tidak peduli dan menutup mata terhadap apa pun keikhlasan yang kita perbuat, tetapi Tuhan akan selalu peduli dan tidak akan menutup mata Nya kepada keikhlasan hati kita.

Di saat yang TEPAT Dia akan memanggil malaikat Nya, ”Kat, Kat, malaikat…kasih BERKAT untuk orang yang ikhlas itu”.

#kira-kira seperti itu ...



Selasa, 30 Juni 2015

Ya...mereka memang yang memberi kita kesibukan setiap harinya....tetapi, mereka bukan Tuhan...

Sebuah keputusan sudah diambil...
perjalanan hanyalah pilihan
hati ini bisa saja salah...
tapi,
siapa yang bisa menebak jalan cerita DIA ?

Terimakasih untuk waktu yang telah kita lewati bersama.
Kami bergandengan tangan melewati jalan terjaltembok kokohmu ... 
hingga genggaman tangan kami lepas satu persatu...meninggalkan sisa cerita

Percayalah...kokoh dindingmu hidup di hati, kubawa kemanapun aku pergi dan selalu disebut dalam setiap cerita

Tanpa pernah aku bisa memungkiri bahwa basementmu pernah menjadi bagian hidupku


Buat kamu, sahabat yang disana,
Aku mengerti apa yang kamu rasakan saat lalu....
Akupun pernah merasakan hal yang sama saat dulu....

Sahabat,

Percayalah
Saat kamu merasa dunia ini gelap gulita...
aku pernah merasakan apa yang kamu rasakan....
kamu merasa, seakan-akan kehilangan masa depan...

Tidak Sahabat....aku pastikan tidak....

Kadangkala, saat Tuhan akan memberikan sesuatu yang pantas buatmu...dan mengambilnya apa yang sekarang sedang kamu genggam....

Seperti menghempaskan kamu bukan?
Tapi sahabat, saat ini Tuhan sedang menyiapkan hal yang baik untukku...untuk keluargamu dan untuk masa depan sahabat kita yang lain...

Saat ini, Tuhan melihat, bahwa ketika aku  selamanya disini, aku akan semakin menjauh dariNYA...dan Tuhan tidak mau itu...Tuhan terlalu sayang terhadapku...terhadap keluargamu....

kita tidak pernah tau apa yang akan Tuhan lakukan, karena kita berpikir secara manusia.

Ikhlas teman...ikhlas....dan ketika ikhlas itu telah menjalar dalam urat nadimu....maka kamu akan mengerti....

Ya...mereka memang yang memberi kita kesibukan setiap harinya....
tetapi teman,

mereka bukan Tuhan...







teriring peluk kalian, sahabat perjalananku... 

Senin, 22 Juni 2015

She Called Bladee




Hai semua, 

Gue mau kasih tau, kalo gue pengeeennnnnn banget gowes, seperti orang-orang diluar sana. Kayaknya asyik... genjot-genjotan sambil ngopi dan ngrokok menikmati pemandangan.


Trus akhirnya melamar bladee ..... dan dibawa pulang dengan hati riang ...... parkirpun didalam kamar.... dikenalin sama JUWITA 12 (Jupiter White Tahun 2012 ) ....

ahhhh.... kadang-kadang saya terlalu lebay ..... :p


Trus.... mulailah perjalanan malam di Bypass Ngurah Rai ..... seminggu 3x sepanjang 10 km ... 
Mulainya sih dari rumah yang deket sama MCD jimbaran... gowes menuju ke bandara dan muter bandara, balik lagi ke jimbaran... kira-kira 10 KM deh panjang x lebarnya

Tapi nggak kayak gitu juga .... kadang-kadang si Bladee mengerti kemauan yang naikin... hihihihi... kalo capek udah aja masukkin ke SARBAGITA kalo di Jakarta tuh kayak Busway.... bayar hanya IDR. 3.500 trus lanjut genjot....

Atau sunsetan di Kuta,



Atau Car Free Day di Renon







Selasa, 20 Januari 2015

07L - 25R

 “Flight attendants, prepare for take-off please.”
 
landing


Ada yang tau tentang angka di ujung landasan pacu di bandara?

... pasti pada nggak ngeh khan yak....

 
12L - 30R

Setiap bandara memiliki nama, misal Seokarno-Hatta untuk Jakarta, Raden Intan II buat Lampung, Sultan Iskanda Muda sebagai nama bandara di Banda Aceh.


Ternyata landasan pacu (runway) juga memiliki nama. Tapi namanya bukanlah nama pahlawan atau nama layaknya bandara. Lalu bagaimana setiap runway memiliki namanya?

IMG_0387
Jadi, setiap landasan pacu dinamai sesuai dengan posisinya terhadap kutub magnetis bumi.

Seperti telah kamu ketahui, arah mata angin berupa lingkaran penuh itu dibagi berdasarkan derajat (dari 00 hingga 3600).

Dimulai dari kutub utara, berputar “searah jarum jam” ke arah timur, selatan, barat, dan kembali lagi ke utara. (coba deh kalau 00 itu arah utara, maka berapa derajat untuk arah Timur, Selatan, dan Barat?)

IMG_5411
Runway
Cara penamaan bandara tersebut adalah dengan memberi angka yang menyatakan arah yang di”hadapi” oleh pesawat saat mendarat.

Arah itu dinyatakan dalam derajat, yaitu dengan pembulatan terdekat ke “sepuluhan” dan menampilkan hanya dua digit angka pertama. Misal arahnya 0730, maka dibulatkan 0700 dan ditulis sebagai 07. Sementara ujung landasan satunya lagi memiliki “lawan” sebesar 1800. dalam contoh tersebut diatas maka ujung landasan satulagi akan memiliki angka 073+180=253, dibulatkan 250, dan ditulis 25.

Dengan demikian pasangan yang ada untuk nama runway adalah :
01 - 19 | 02 - 20 | 03 - 21 | 04 - 22 | 05 - 23 | 06 - 24
07 - 25 | 08 - 26 | 09 - 27 | 10 - 28 | 11 - 29 | 12 - 30
13 - 31 | 14 - 32 | 15 - 33 | 16 - 34 | 17 - 35 | 18 - 36


cengkareng

Untuk contoh diatas, bandara tersebut memiliki runway bernama 07/25 (penamaan dimulai dengan angka yang terkecil).

Nah saat pilot akan mendaratkan pesawatnya, maka harus diperhatikan dari arah mana pesawat itu harus di daratkan. Kembali pada contoh diatas, runway 07/25, misal pilot dipersilahkan mendarat (landing) di landasan 07/25 menghadap timur. Maka pilot harus mendarat dari ujung 07,  bukan dari ujung 25 lho (kenapa hayo?).

Tadi khan udah dibahas kalo angka tersebut khan merupakan perutaran / rotasi dari 360' dan landingnya harus menghadap timur ( angka 07 = barat dan angka 25 = timur ) dengan patokan 360' di arah utara


Beberapa landasan yang paralel memberi tambahan notasi R/L untuk menandakan Right (kanan) dan Left (kiri). Juga untuk landasan yang paralel tiga buah, memberi notasi R/L/C, dengan C untuk Center (tengah).

Contoh, bandara internasional Soekarno hatta memiliki runway ganda 07/25 yang masing-masing memiliki akhiran R dan L.

Bagaimana jika sebuah bandara memiliki lebih dari 3 lajur yang paralel? Maka selain memberi kode L/R juga di buat perbedaan sebesar 100 untuk setiap landasannya, misal 25L/25R serta 26L/26R walaupun landasannya sama2 berarah 2520


okeeee.... udah ngerti khan?..... 

Livery 1969-1985 di body B737-800NG
L F W






 













“Flight attendants, prepare for landing please.”


Atas nama Wienn Air dan seluruh kru, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk bergabung dengan kami di perjalanan ini dan terimakasih untuk terbang bersama Wienn Air





hahahahah.... googling-googling ternyata nama gue dijadiin maskapai di Alaska sono....

#jauh....



(dari berbagai sumber)
(gambar skema : ilmuterbang.com )