Selasa, 24 Januari 2017

Kisah Trolley Swalayan




Sungguh ini sesuatu yang sepele......

Aku kangen mendorong trolley belanjaan istriku di awal bulan...untuk persediaan di rumah....

Diantara memilih yang ekonomis dan hemat, tak jarang aku terlibat adu argumen dengan istriku...

Kadang dia yang memenangkan argumen itu, kadang akupun demikian... 

Dan akhirnya aku mengalah untuk melihat dia tersenyum senang atas 'kebenaran' argumennya...#hmmmm....dasar wanita....

Dan saat tersenyum itulah, aku merasakan sesuatu yang mengalir hangat didalam perasaanku....

Hmmmmm.....Ibu dari kedua anakku yang akan beranjak dewasa.

baca juga : terkadang malaikat tak bersayap

Sesekali para bidadari kecilku memasukkan sesuatu kegemaran mereka ke trolley yang sedang kudorong...masih seperti Ibunya, akupun mengalah dan membiarkan mereka 'memenangkan' argumennya sambil tertawa lebar menertawakan 'kekalahan' ayahnya......

Tiba saat yang dinanti.....kening istriku berkerut melihat barang-barang 'gak jelas' yang dimasukkan para bidadari kecilku ke trolley yang aku dorong tadi.....dan ke tiga wanitaku terlibat diskusi antara boleh dan tidak boleh.....

Inilah giliranku tersenyum penuh kemenangan saat melihat mereka.....mereka pelengkap sisa hidupku saat ini dengan segala tingkah polahnya.....

Tahukan kamu?



Aku kangen mendorong trolley itu......bukan karena trolleynya....


Piro Gajimu Nganti Mbok Tinggal Sholatmu?


Aku masih ingat, hari itu adalah hari Kamis, sesaat ada janji untuk ketemuan dengan pelanggan yang tertarik dengan produk yang aku tawarkan.

Hari itu, masih jam 8.30 pagi, sembari menunggu waktu yang ditentukan pada jam 10 pagi, aku mikir untuk memarkirkan mobilku di sebuah mesjid di tengah kota itu. Toh tempat ketemuannya bisa disambangi dengan berjalan kaki.

Singkat cerita, aku menjalankan mobil perlahan untuk memasuki halaman mesjid dan mencari parkiran dan menemukan tempat kosong untuk segera aku parkirkan mobilku.

Ahhh ... masih jam segini juga sih, aku melihat ada warung kopi di sudut halaman mesjid.

ngopi dulu enak nih ....!

Perjalanan ke sudut halaman, aku membaca sebuah tulisan sekilas dan membuatku tertarik untuk mendekat.

setelah aku membaca, aku terdiam... tertawa getir dan nyeri di hati....

Perlahan, aku melangkah ke ruang wudlu dan menyegerakannya sesaat kemudian dilanjutkan sholat dhuha.

Duh Gusti,

Maafkan aku yang acapkali mempunyai keinginan besar tanpa memberitahu Engkau rencana besarku.

Maafkan aku, yang selalu menuntut Engkau untuk memberikan apa yang cocok menurutku.

Kata-kata itu seakan menampar aku yang hanya memikirkan egoku sendiri, seakan 24 jam yang Dia berikan masih kurang cukup.

...

Gusti Pangeran, aku tau bahwa semua rencanaMu untuk aku adalah sempurna, aku hanya harus lebih peka, mengerti dan Ikhlas saat menjalaninya.